SEJARAH DESA BANDARAN
Bandaran adalah salah satu desa (dhisa) di antara delapan desa yang terdapat di wilayah Kecamatan Tlanakan Pamekasan serta merupakan daerah perbatasan antara Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sampang. Secara topografis, daerah Bandaran mempunyai ketinggian tanah antara 0 sampai 50 meter di atas permukaan laut, dengan jenis tanah "grumusol" (Abdurrachman, 1977). Ia merupakan sebuah desa "nelayan tradisional" yang secara geografis terletak sekitar 20 km sebelah barat daya kota Pamekasan. Desa Bandaran semula bernama kampong cerek. Perubahan nama dari "Cerek" menjadi "Bandaran" terjadi ketika desa ini berkembang menjadi "bandar" ikan. Kapan perubahan nama itu terjadi, tampaknya sangat sulit dipastikan.
Desa Bandaran merupakan sebuah potret kehidupan desa nelayan tradisional, yang dalam menggerakkan aktivitas perekonomiannya sangat mengandalkan pada matapencaharian sebagai nelayan, dan sedikit sekali yang memiliki matapencaharian tetap. Selain itu, para nelayan dan beberapa pelaku ekonomi setempat (juragan pemilik kapal, bakul ikan) mengelola dan mengembangkan aktivitas perekonomian mereka secara "swasembada", yaitu bertumpu pada pemberdayaan potensi daerah dan modal yang terdapat di lingkungan setempat (lokal), yang merupakan ciri khas dari sebuah struktur ekonomi desa.
PROFIL DESA
Aparatur Desa
Desa Bandaran merupakan salah satu daerah yang cukup berkembang, Dimana semua infrastruktur desa sudah ada yang memenuhi. Aparatur pemerintahan desa merupakan salah satu elemen prnting dalam berkembangnya suatu daerah/desa. Aparatur pemerintahan di desa bandaran saat ini di pimpin oleh Ibu Heni Nur Aini yang menjabat sebagai kepala Desa Bandaran Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan.
No
Desa Bandaran
Keterangan

1
Dasar hukum pembentukan pemerintahan Desa
Perda

2
Dasar hukum pembentukan BPD
Perda

3
Jumlah aparat Pemerintahan Desa
35 orang

4
Jumlah perangkat Desa
19 unit kerja

5
Kepala Desa
Ada

6
Sekertaris Desa
Ada

7
Kepala Urusan pemerintah
Ada

8
Kepala Urusan Pembangunan
Ada

9
Kepala Urusan Pemberdayaan masyarakat
Ada

10
Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat
Ada

11
Kepala Urusan Umum
Ada

12
Kepala Urusan Keuangan
Ada

13
Jumlah Staf
19 orang

14
Jumlah Dusun
8 Dusun


Badan Permusyawaratan Desa


Keberadaan BPD
Ada

Jumlah Anggota BPD
9 orang


Struktur Desa
Jumlah Penduduk
Desa Bandaran terbagi menjadi 8 (delapan) dusun, yaitu: Bandaran I-II, Ombul I-II, Sumber Wangi I-II, Nangger, dan kampung Montor. Kampung Bandaran I-II, Ombul I-II, serta kampung Sumber Wangi I-II adalah kampung-kampung yang letaknya di dekat laut/pesisiran, sedangkan duadusun lainnya (Nangger dan Montor) terletak agak jauh dari pesisiran dan berada di lereng sebuah perbukitan di sebelah utara keenam dusun sebelumnya. Berdasarkan data administrasi pemerintahan desa, jumlah penduduk Desa Bandaran tercatat sebanyak ± 6.658 orang dengan jumlah laki-laki ± 3.295 orang dan jumlah perempuan ±3.363 orang dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 1.934 KK  dan memiiki kepadatan penduduk sebesar 3.522,75 per KM dengan rincian sebagai berikut:
NO
NAMA DUSUN
JUMLAH

1
Dusun Bandaran 1
180 KK

2
Dusun Bandaran 2
295 KK

3
Dusun Sumber Wangi 1
205 KK

4
Dusun Sumber Wangi 2
114 KK

5
Dusun Ombul 1
141 KK

6
Dususn Ombel 2
435 KK

7
Dusun Montor
361 KK

8
Dusun Nagger
203 KK

JUMLAH



Pekerjaan
Keenam dusun pesisiran tersebut walaupun secara geografis memiliki luas wilayah yang lebih kecil dibandingkan dengan kedua dusun yang lain, akan tetapi memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, serta menjadi pusat konsentrasi pemukiman penduduk desa Bandaran. Di sebelah selatan Sumber Wangi II terletak Puskesmas Cabang Kecamatan Tlanakan, SDN Bandaran I dan IV. Sedangkan sebelah barat (diseberang jalan) sudah masuk ke wilayah dusun Ombul I—terdapat SDN Bandaran II dan III dan sebuah mesjid dari dua mesjid yang ada di Desa Bandaran. Pada umumnya wilayah desa Bandaran kondisi tanahnya tidaklah subur, bahkan cenderung agak keras serta aktivitas pertanian dapat dikatakan tidak berkembang atau tidak diusahakan oleh penduduk setempat. Hal ini berbeda dengan penduduk yang berada di dua dusun yang lain yaitu dusun Nangger dan Montor, yang pada umumnya bermatapencaharian sebagai petani sawah tadah hujan, meskipun, ada pula di antara mereka yang bermata pencaharian sebagai nelayan, terutama ketika musim kemarau panjang (mosem nemor kara).Dalam kondisi geologis seperti itu, matapencaharian pokok masyarakat yang berada di desa Bandaran pesisir, adalah sebagai nelayan, serta hanya sebagian kecil di antaranya bermatapencaharian sebagai penjual bahanbahan kebutuhan keseharian masyarakat (meracang), pedagang emas, pegawai negeri, dan pengusaha angkutan penumpang (taksi).
Banyaknya jumlah penduduk di Desa Bandaran  memungkinkan angkatan tenaga kerja yang tercatat oleh administrasi desa dimulai dari usia18-56 tahun. dengan rincian sebagai berikut:
NO
JENIS KELAMIN
JUMLAH

1
Laki-laki
2.750 orang

2
Perempuan
1.250 orang

Jumlah
ang

Sumber: Buku Profile Desa Bandaran Tahun 2016.
Tercatatnya angkatan kerja yang tercatat di Desa Bandaran tercatat pula masyarakat  bermata pencaharian pokok sebagai nelayan dengan jumlah laki-laki sebanyak 1.500 orang dan perempuan sebanyak  500 orang.
Fasilitas Umum
Desa Bandaran memiliki beberapa fasilitas seperti lapangan olahraga, tempat pemakaman desa/umum, fasiltas pasar, bangunan sekolah, dan juga perkantoran pemerintahan(balai desa). Namun karena minimnya tempat pembuangan sampah maka menyebabkan masyarakat membuang sampah sembarangan. Hal tesebut tentu akan sangat berpengaruh dan menyebabkan hal-hal yang buruk seperti becana alam (banjir) maupun menyebabkan penyakit. Oleh karena itu dirasa sangat penting untuk membuatkan Bank sampah di desa Bandaran minimal 2 Bank Sampah, mengingat desa Bandaran memiliki 8 dusun.
Geografis
Letak dan Luas Wilayah
Desa Bandaran kecamatan Tlanakan kabupaten pamekasan provinsi jawa timur ini merupakan desa pertama setalah kabupaten sampang ketika melewati dari sebelah barat. Mengenai batas-batas wilayah desa bandaran, desa ini di ampit dengan desa mangar, larangan slampar dari sebelah utara, sedangkan dari sebelah selatan ada selat madura, sebelah timur ada desa kramat, dan sebelah barat ada desa tanjung kabupaten sampang. Radius jarak ke ibu kota kecamatan 7 km, kendaraan yang digunakan masyarakat disini adalah motor. Lalu lama jarak tempuh ke ibu kota kecamatan dengan kendaraan bermotor adalah 15 menit, sedangkan jarak ke ibu kota kabupaten/kota adalah 13 km dan untuk lama jarak yang di tempuh dengan kendaraan motor adalah 30 menit.
Iklim
Seperti pada wilayah indonesia lainnya, Bandaran mempunyai iklim kemarau dan iklim penghujan. Dimana kedua iklim tersebut berpengaruh pada pola tanam para petani dan juga tangkapan ikan para nelayan Desa Bandaran. Desa Bandaran memiliki curah hujan sebesar 1.80000 mm dan jumlah bulan hujan yakni 3 bulan dan memiliki tinggi 4,00 mdl dari permukaan laut.
Komoditas
Ada beberapa komoditas yang terdapat di desa Bandaran, diantaranya :
1). Pertanian
Pertanian adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia dengan cara menanam tumbuh tumbauhan yang memiliki nilai ekonomis. Salah satu bentuk pemanfaatan lahan dalam bidang pertanian yang dilakukan oleh warga desa bandaran adalah bercocok tanam. Salah satu tanaman yang kerap ditanam oleh warga yaitu tanaman padi ketika musim hujan dan tembakau dan kedelai  ketika musim kemarau tiba. Salah satu problem utama dalam bidang pertanian yang kerap dikeluhkan oleh petani adalah susahnya mencari air di musim kemarau, dalam hal ini petani harus mengeluarkan uang lebih untuk memasang paralon sejauh bermeter meter untuk mendapatkan air agar mereka tidak gagal panen.
2). Kemaritiman
Desa Bandaran adalah salah satu desa yang terkenal dengan hasil lautnya yang berupa periikanan, hal ini didukung oleh letak desa bandaran yang kebetulan berada di pesisir selat madura. Sistem bekerja mereka ketika mau melaut yaitu menggunakan sistem gotong royong.
Ekonomi
Letak geografis yang dekat dengan laut membuat mayoritas masyarakat desa Bandaran Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pemekasan ini bekerja atau bermata pencaharian nelayan. Sehingga ekonomi pokok mereka terletak pada hasil laut yang melimpah. Namun selain sebagai nelayan masyarakat Bandaran ini memanfaat kan jalur darat sebagai peluang untuk menambah pundi-pundi penghasilan mereka. Salah satu contohnya adalah mereka bekerja sebagai tukang becak dan transportasi umum lainnya yang dapat menghasilkan uang.Nelayan selain sebagai pencari ikan mereka juga menggunakan kapal-kapal mereka untuk mengangkut orang untuk menyebrang kepulau lainnya. Sehingga untuk memanfaatkan perahu bukan hanya sebagai objek pengangkutan ikan-ikan dari nelayan.
Dari jalur darat selain memanfaatkan becak ada juga tukang ojek disini sebagai sarana transportasi umum lainnya yang dapat menunjang perekonomian dari masyarakat desa Bandaran sendiri. Desa Bandaran letaknya yang strategis mengakibatkan masyarakatnya untuk mandiri dan berpikir kritis dalam menanggapi masalah social seperti kemiskinan. Buktinya telah berdiri beberapa unit usaha kecil menengah ditengah-tengah masyarakatnya untuk membantu mengentaskan masalah ekonomi. Hal ini tidak akan terbentuk tanpa bantuan dari KadesBandaran. Oleh karena itu beberapa unit usaha kecil atau home industry yang ada di Bandaran ini masih tetap eksis dan ada meskipun jaman sudah mulai modern. Contoh home industry pembuatan petis ikan yang berdiri sejak puluhan tahun yang lalu dan masih eksis hingga saat ini. Pembuatannya pun masih dengan menggunakan cara yang sangat sederhana sampai saat ini. Bahkan semua orang seluruh penjuru Madura mengetahui bahwa petisPamekasan lah yang paling enak. Selain itu home industry kerajianan kayu atau furniture yang dikelola sejak beberapa tahun silam yang omsetnya sudah puluhan juta per bulannya. Juga ada pengelohan krupuk puli yang terbuat dari tepung juga pembuatan nya masih sederhana hingga saat ini. Itulah beberapa cuplikan home industry yang ada di desa Bandaran Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan. Dan beberapa tahun terakhir ini dapat mengentaskan masalah kemiskinannya.
Segi perekonomian lain nya yaitu dengan pemanfaatan lahan yang berada di Bandaran utara yaitu mereka bermata pencaharian sebagai petani. Hasil dari lahan mereka adalah berupa padi dan juga tembakau. Tembakau Madura adalah yang paling diminati oleh perusahaan rokok ternama di Indonesia. Harga tembakau kering di Madura ini bias mencapai Rp. 40.000,- per kilogram nya jika musim dan harga sedang normal serta baik. Untuk memilih tembakau ini tidak sembarangan tembakau dipilih dengan daun yang terbaik. Serta dalam perawatannya tidak mudah harus telaten sampai dengan masa panennya.
Ladang selain sebagai penanaman tembakau mereka juga menanam padi ketika musim penghujan karena pada musim seperti ini tembakau tidak akan mau tumbuh. Oleh karena nya untuk inisiatif mereka menanam padi sebagai ganti tembakau tersebut.
Pasar juga tempat mereka untuk mengentaskan ekonomi yang semakin pelik. Banyak diantara mereka masyarakat Bandaran yang berprofesi sebagai pedagang di pasar.Karena lokasi yang dekat dengan jalanraya serta laut. Yang merupakan jalur utama di daerah Madura ini mendirikan pasar yang merupakan pasar utama bagi desa-desa sebelah Bandaran itu sendiri seperti desa terak dan desa mangar.
Alih-alih sebagai pengusaha kecil-kecilan warga daerah Bandaran juga ada yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil. Yang artinya banyak diantara mereka juga berpendidikan tinggi yang artinya juga ekonomi di desa ini semakin maju. Tidak sedikit yang berprofesi seperti ini. Selain profesi yang telah disebutkan diatas ada juga yang mereka membuat kapal yang mana omset perbulannyamencapai 500 juta. Ini merupakan sebuah pencapaian ekonomi yang patut diacungi jempol meskipun didaerah yang notabennya masih dalam masa perkembangan.
Berikut ini adalah beberapa home industry yang ada di desa Bandaran :
1. Usaha pembuatan petis.
2. Usaha pembuatan kerupuk.
3. Usaha pembuatan kapal
4. Usaha lembaga keuangan simpan dan pinjam.
5. Usaha pembuatan furniture.
i.  Keamanan
Desa Bandaran yang terletak di sepanjang pesisir laut di kabupaten Pamekasan ini memiliki sistem keamanan yang dapat dikatakan cukup baik. Dimana desa ini memiliki lembaga keamanan yaitu Hansip dan Linmas. Masing-masing lembaga keamanan ini memiliki anggota yang cukup banyak, dengan jumlah 16 anggota untuk Hansip dan 18 anggota untuk Linmas. Dengan jumlah anggota keamanan yang cukup banyak ini, bisa dipastikan bahwa keamanan di desa Bandaran ini cukup terjamin.
Penjagaan yang dilakukan yaitu dengan cara melakukan siskamling secara bergantian tiap harinya, dimana terdapat juga beberapa warga desa yg ikut dalam kegiatan siskamling ini. Lembaga keamanan di sini juga mengajak warga sekitar untuk turut serta menjaga keamanan desa. Karena sejatinya, peran hansip dan Linmas yang ada di desa tidak berarti apapun ketika warga sekitar tidak mau ikut andil dalam menjaga keamanan desa.
Selain lembaga keamanan berupa hansip dan linmas, Desa Bandaran juga menjalin kerja sama dengan pihak Koramil/TNI hingga Polri dalam bidang Trantiblinmas untuk menjaga keamanan desa Bandaran. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan keamanan warga desa Bandaran terjaga dengan aman.

MASALAH YANG DIHADAPI
Kejadian Bencana Alam
Tlanakan merupakan salah satu wilayah yang ada di Kabupaten Pamekasan yang  mencakup 17 (tujuh belas) desa dengan luas wilayah yang bebeda-beda salah satunya yakni desa Bandaran. Letak desa ini berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Sampang yakni desa Dhama Tanjung Kec. Camplong dengan Kabupaten Pamekasan yakni desa Bandaran itu sendiri. Luas desa ini berkisar ± 189 Ha. Karena letaknya yang berada di wilayah pesisir mengakibatkan desa ini memiliki kelebihan dari pada desa-desa yang lainnya yang ada di Kabupaten Pamekasan jika pemanfaatannya dilakukan dengan baik.
Kekayaan alam yang melimpah yang disertai dengan Sumber Daya Manusia yang mendukung dapat menjadikan desa tersebut menjadi desa yang unggul akan tetapi jika kekayaan alam yang melimpah tidak  disertai Sumber Daya Manusia yang berkualitas maka hal itu akan cenderung menjadi boomerang bagi desa itu sendiri. Salah satu contohnya ialah laut yang berada di wilayah desa Bandaran yang kaya akan Sumber Daya Alam nya akan tetapi pemanfaatannya tidak dilakukan secara tepat yang perlahan-lahan dipenuhi oleh tumpukan sampah yang berpotensi menimbulkan bencana alam di wilayah tersebut.
Menurut Undang-Undang Nomer 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana Alam mendefinisikan bencana sebagai sebuah peristiwa atau rangkain peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan karena: faktor alam dan/atau faktor non alam maupun fakto manusia sehingga mengaibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Sedangkan untuk bencana alam itu sendiri dapat didefinisikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lai berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, kekeringan, angin topan, kebakaran, tanah longsor dan banjir.
Banjir merupkan peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air ang meningkat. Peristiwa bencana alam seperti banjir ini pernah terjadi di desa  bandaran tepatnya yakni pada hari Jum’at, 20 Februari 2015. Menurut keterangan warga setempat banjir ini desebabkan oleh hujan lebat yang mengguyur desa tersebut kurang lebih sekitar 2 jam yang kemudian mengakibatkan sungai-sungai yang berada di desa Bandaran meluap ke rumah warga. Tidak hanya rumah warga yang terendam, sekolah SD juga terendam banjir sehingga mengakibatkan proses belajar mengajar di SDN II dan SDN III Bandaran, Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan menjadi lumpuh. Sejumlah siswa-siswi SDN II dan SDN Bandaran III yang awalnya berangkat ke sekolah untuk belajar. Namun untuk Jum’at pagi itu para siswa terpaksa bekerja bakti membersihkan lumpur akibat banjir tersebut.

Bencana banjir seperti gambar di atas akan cenderung terjadi lagi disetiap tahunnya jika kesadaran masyarakat akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya masih belum bisa diterapkan secara baik. Pola hidup bersih harus mulai ditanamkan kepada anak-anak sedini mungkin agar ketika mereka sudah dewasa mereka bisa membangun desa bandaran yang sudah memiliki predikat desa terkotor menjadi desa yang lebih baik lagi. Karena pada dasarnya sampah merupakan salah satu masalah yang kompleks yang perlu perhatian cukup dari semua kalangan.
Kurangnya Kesadaran Mengenai MCK
Kurangnya kesadaran mengenai MCK di Desa Bandaran tidak dapat dipungkiri. Hal tersebut dapat dilihat dari masih banyaknya masyarakat desa Bandaran yang masih BAB di laut. Tentu saja hal tersebut dapat berdampak pada pencemaran laut. Oleh karena itu sangat diperlukan penekanan mengenai pentingnya MCK dirumah sendiri dan bahaya tentang pencemaran laut agar masyarakat desa Bandaran memilik kesadaran untuk menjaga kebersihan.
POTENSI DESA BANDARAN
Bandaran adalah salah satu desa pesisir yang terletak pada ujung barat selatan Kabupaten Pamekasan. Yang mana desa Bandaran berbatasan langsung dengan desa Tanjung, Kabupaten Sampang yang hanya dipisahkan dengan jembatan kecil yang saling menghubungkan keduanya. Masyarakat asli Bandaran didominasi oleh para nelayan yang setiap harinya pergi melaut demi menghidupi kebutuhan keluarga mereka. Hal ini bisa dilihat dari aktifitas mereka dalam setiap harinya. Pada malam hari mereka pergi melaut dan esok paginya mereka berbondong–bondong menjual hasil tangkapannya semalam di sepanjang jalan depan pasar Ikan. Hal itu mendorong adanya kreatifitas-kreatfitas masyarakat sekitar untuk mengolah hasil tangkapan melaut para nelayan menjadi berbagai macam bentuk olahan. Mulai dari kerupuk ikan, petis ikan, kerupuk cumi, abon tongkol, nugget ikan, dan produk lainnya. Begitu halnya desa Bandaran memiliki dua produk unggulan yang salah satunya memanfaatkan ikan laut, yaitu petis ikan yang sudah menyebar luas ke seluruh pelosok negeri di Madura. Petis ikan di desa Bandaran menggunakan ikan khusus yang biasa orang sekitar sebut dengan ikan Kresek.
Gambar Petis



Selain memproduksi suatu produk dari hasil tagkapan laut, warga sekitar juga membuat suatu produk unggulan lain yang menggunakan bahan baku tepung. Bahan baku tepung dipadupadankan dengan bumbu lainnya utuk membuat suatu adonan kerupuk. Setelah adonannya sudah jadi, bentuk adonan tersebut menjadi seperti lontong. Kemudian adonan tersebut dikukus untuk beberapa menit. Ketika adonan sudah matang maka tiriskan adonan dalam suatu loyang besar dan dingikan terlebih dahulu. Setelah adonan kerupuk sudah dingin, maka potong adonan tersebut menjadi tipis–tipis. Sebelum potongan–potongan itu digoreng menjadi suatu kerupuk, jemurlah kerupuk tersebut satu atau dua hari terlebih dahulu agar kerupuknya lebih mengembang. Goreng kerupuk yang sudah dijemur dalam keadaan minyak goreng yang panas dan wajan besar agar kerupuk yang digoreg muat banyak. Maka jadilah suatu produk unggulan yang sering orang sebut dengan kerupuk puli. Para pekerja kerupuk ini adaah ibu–ibu yang tidak memiliki suatu pekerjaan ataupun usaha yang menjadikan mereka bekerja dalam home industry ini. terdapat empat pekerja yang mana satu pekerja dalam bagian goreng menggoreng kerupuk dan tiga lainnya dalam bagian pengemasan kerupuk. Semua pekerja tersebut masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan pemilik home industry tersebut dan juga orang sekitar yang memang ingin memiliki suatu pekerjaan.
Gambar Kerupuk


Potensi lain yang dimiliki Desa Bandaran yaitu tempat jual beli (pasar). Pasar di Bandaran lebis besar jika dibandingkan pasar di desa lainnya. Banyak masyarakat desa lain yang berjualan dan berbelanja di pasar Bandaran, misalnya masyarakat Desa Mangar dan masyarakat Desa Terrak. Adanya pasar yang lebih besar dibandingkan desa lain ini berhubungan dengan potensi bandaran sebelumnya yaitu letak Bandaran yang memiliki 2 kelompok masyarakat, sehingga dengan letak desa tersebut kebutuhan masyarakat lebih banyak tersedia terutama hasil lautnya.
Potensi yang dimiliki Bandaran perlu dilakukannya pengembangan agar dapat memajukan Desa Bandaran dan agar Desa Bandaran lebih dikenal masyarakat luar. Salah satu pengembangan yang dapat dilakukan misalnya dengan mengembangkan hasil laut yang mulanya dijual dalam bentuk mentah menjadi bahan olahan. Terdapat beberapa produk asli  Bandaran yaitu petis dan krupuk ikan. Namun, produk tersebut belum banyak dikenal masrayakat luar, sehingga perlu peningkatan dari segi kualitas dan pemasaran produknya. Selain kedua produk tersebut, terdapat beberapa produk yang dapat dikembangkan yaitu, nugget ikan, krupuk cumi, dan abon tongkol. Ketiga produk tersebut diolah dari hasil laut, sehinnga dapat memanfaatkan hasil laut yang melimpah dan menambah nilai jual dari hasil laut tersebut. Agar lebih dikenal masyarak produk tersebut harus dijaga kualitas barang baik dari pengolahan dan pengemasannya, serta managemen pemasarannya.
Potensi di Desa Bandaran tidak hanya beupa Sumber Daya Alamnya saja, melainkan ada juga Sumber Daya Masyakatnya. Potensi SDM di Bandaran yaitu kemampuan masyarakatnya dalam pembuatan kapal. Dengan potensi tersebut dapat membantu sarana dan prasarana nelayan di daerah tersebut. Neayan tidak perlu membeli atau mendatangkan kapal adari daerah lain untuk sarana bekerjanya. Hal tersebut dapat meminimalisir output yang digunakan nelayan, dimana jka mendatangkan atau membeli kapal dari luar akan lebih mahal biayanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serah Terima Mahasiswa KKN Universitas Trunojoyo Madura di Kec. Tlanakan, Kab. Pamekasan, Madura